Ketika melakukan kesalahan
dan kemudian menyadari berbuat salah ada
sebagian yang segera meminta maaf dan
ada yang juga yang menganggap biasa aja, bila orang yang kita sakiti tidak
menerima maaf yang telah disampaikan,
yang meminta maaf marah. Tapi pernah
direnungkan dan diresapi apa yang telah kau perbuat dirimulah yang mengalami, sangat mudah
mengeluarkan kata maaf, padahal apa yang telah dilakukan membuat hidup orang
lain berubah dan menyisakan penderitaan yang
dalam bagi orang yang telah kita sakiti. Seperti seorang suami yang
telah menelantarkan anak dan istrinya. Sang istri yang harus bekerja untuk
menghidupi anaknya, membayar uang kontrakan rumah , membeli susu, mengobati
anaknya yang sakit selama bertahun-tahun sendirian tanpa pekerjaan yang tetap,
sedangkan sang suami pulang kerumah orang tuanya dan bersenang-senang dengan
wanita lain. Dikemudian hari datang lagi mengambil sang anak dan kemudian
selalu mencaci maki, disaat hatinya lagi baik kadang dengan mudah mengeluarkan
kata maaf, lalu mencaci maki lagi. Sudah berupaya untuk memaafkan, akan
tetapi hal didalam batin ini kadang kala
menyisihkan perih yang amat dalam bila teringat akan perbuatannya…belum
lagi kekerasan dan tamparan yang telah
dilakukannya menyisihkan trauma yang
amat dalam bagi seorang perempuan. Tapi Allah maha besar dari semua cobaan
hidup yang diberikan Allah akhirnya menciptakan seorang perempuan yang tegar
menghadapi semua cobaan, agar apa yang
dialaminya tidak dialami anak-anaknya dan perempuan lain. Amin.